“Jalan Rp1 Miliar di Sui Ambangah Retak Sebelum Waktu Warga Minta Jawaban LIN Desak Audit“
Kubu Raya,Mata-Rakyat.com— Siang itu, panas menembus aspal di Desa Sui Ambangah, Kecamatan Kubu Raya. Di antara deretan rumah warga, jalan beton baru yang mestinya jadi kebanggaan malah tampak penuh retakan. Sebagian coran mengelupas, sebagian lagi ditinggalkan menggumpal di tepi jalan. Bagi warga, pemandangan itu bukan sekadar retak di permukaan — tapi juga di kepercayaan.
Proyek pembangunan jalan dengan nilai Rp958 juta itu kini tengah disorot tajam. Ketua DPC Lembaga Investigasi Negara (LIN) Kubu Raya, Nurjali, S.Pd.I, menyebut ada indikasi ketidaksesuaian antara data di atas kertas dan realitas di lapangan. “Kami tidak menuduh siapa pun, tapi rakyat berhak tahu bagaimana uang mereka digunakan,” ujarnya.
Dari hasil penelusuran masyarakat, panjang jalan yang dikerjakan hanya 506 meter, bukan 522 meter sebagaimana tertulis dalam kontrak. Ketebalan beton rata-rata hanya 15 sentimeter, padahal standar jalan poros semestinya 20 sentimeter. Di sejumlah titik, hamparan batu cor yang seharusnya 3 meter lebar justru hanya terbentang 1 meter.
Tim teknis independen yang dikerahkan LIN menghitung adanya kekurangan volume beton sekitar 85,5 meter kubik dari total seharusnya 313,2 meter kubik. Dengan harga beton Rp1,2 juta per meter kubik, potensi selisih mencapai Rp102 juta. Ditambah dugaan kekurangan pada hamparan batu cor dan biaya uji mutu, total kekurangan itu bisa menembus Rp135 juta — sekitar 14 persen dari nilai proyek.
“Angka ini bukan sekadar hitungan di kalkulator, tapi potret dari lemahnya pengawasan,” ujar Nurjali. Ia juga menyoroti kualitas pekerjaan yang dianggap jauh dari harapan. Jalan yang baru selesai itu, katanya, sudah menampakkan retakan di beberapa ruas, sementara sisa coran dibiarkan menumpuk tanpa dibersihkan.
Ketua RT setempat, Arsudi, ikut angkat bicara. Ia mengaku sudah menanyakan soal kualitas jalan kepada pelaksana proyek, Rama, yang mengklaim seluruh pekerjaan telah mengikuti arahan Dinas PUPR Kubu Raya. Namun, sampai kini belum ada klarifikasi resmi dari pihak pelaksana, konsultan pengawas, maupun dinas terkait. “Kami hanya ingin kejelasan, bukan perdebatan,” kata Arsudi.
Warga pun berharap pemerintah daerah tidak alergi terhadap kritik. Mereka menilai transparansi adalah kunci menjaga kepercayaan publik. “Kami tidak ingin menuduh, tapi kalau ada kekurangan, perbaikilah secara terbuka,” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Nurjali menutup dengan seruan agar Bupati Kubu Raya, H. Sujiwo, S.E., M.Si, turun langsung meninjau proyek tersebut. “Audit independen adalah jalan terbaik. Transparansi bukan ancaman, tapi jembatan kepercayaan,” katanya. Di Sui Ambangah, jalan yang retak itu kini menjadi simbol: bahwa pembangunan sejati bukan hanya soal beton dan anggaran, tapi juga tentang kejujuran yang mengikat keduanya.

Tinggalkan Balasan