“Babat Legok Darurat Polusi: Peleburan Alumunium Ilegal Renggut Kesehatan Warga, Pemerintah Bungkam?”
Tangerang, Banten – Jeritan pilu warga Babat Legok, Kabupaten Tangerang, Banten, semakin nyaring di tengah kepungan asap beracun dari aktivitas peleburan Alumunium ilegal yang kian menggila. Praktik keji ini, yang diduga didalangi oleh oknum pengusaha serakah, tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga merenggut kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Ironisnya, pemerintah daerah terkesan tutup mata, membiarkan Babat Legok menjadi zona berbahaya yang mengancam nyawa. (20/11).
Selama berbulan-bulan, warga Babat Legok dipaksa menghirup udara yang tercemar partikel Alumunium dan zat kimia berbahaya lainnya. Dampaknya mengerikan: anak-anak terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), lansia kesulitan bernapas, dan kualitas hidup seluruh warga merosot drastis. Tak hanya itu, limbah cair beracun dari proses peleburan ilegal ini mencemari sumber air bersih, mengubah air sumur menjadi cairan keruh yang mengandung logam berat mematikan.
“Kami sudah tidak tahan lagi! Setiap hari kami menelan racun. Anak-anak kami sakit-sakitan, masa depan mereka terancam,” ungkap seorang ibu rumah tangga dengan nada putus asa, yang meminta identitasnya dirahasiakan karena takut akan intimidasi dari para pelaku.
Seorang pekerja peleburan timah ilegal, dengan inisial AG, secara blak-blakan mengakui aktivitas haram tersebut. Ia menyebut nama seorang pengusaha bernama Sarwono sebagai “bos” yang bertanggung jawab atas operasi ilegal ini. Ironisnya, meski identitas pelaku sudah dikantongi, aparat penegak hukum Polsek Legok terkesan lamban dan tidak bertindak tegas.
“Kami menduga ada oknum aparat yang “main mata” dengan para pelaku, sehingga praktik ilegal ini bisa terus berjalan,” ujar Gunawan Darma S.Kom., dewan penasehat organisasi masyarakat setempat, dengan nada geram.
Masyarakat Babat Legok menuntut tindakan nyata dan segera dari pemerintah daerah, Dinas Lingkungan Hidup, dan aparat penegak hukum. Mereka tidak ingin menjadi korban dari keserakahan para pelaku ilegal yang hanya mementingkan keuntungan pribadi tanpa peduli dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
“Kami tidak ingin Babat Legok menjadi Chernobyl-nya Tangerang! Pemerintah harus bertindak tegas sebelum terlambat!” seru seorang tokoh masyarakat dengan nada penuh harap.
Sampai kapan pemerintah daerah akan menutup mata terhadap kejahatan lingkungan yang merenggut nyawa ini? Nasib warga Babat Legok kini berada di ujung tanduk, menunggu uluran tangan keadilan dari para penguasa.

Tinggalkan Balasan