TUNTUT COPOT KAPOLRES TANA TORAJA, GEMPAR BERSAMA RATUSAN MAHASISWA GRUDUK MAPOLDA SULSEL

 

Makasar, MATA-RAKYAT.COM – Gerakan Mahasiswa Pemuda Toraja (GEMPAR), bersama ratusan massa aksi dari berbagai elemen pemuda dan mahasiswa, menggelar demonstrasi besar di depan Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sulawesi Selatan, di Makassar, hari ini, Selasa 09 Desember 2025.

Aksi unjuk rasa ini merupakan tindak lanjut dari pernyataan sikap yang menuntut Kapolda Sulsel segera mencopot Kapolres Tana Toraja, AKBP Budi Hermawan.

Massa aksi datang membawa rentetan tuntutan dan bukti yang mereka klaim sebagai bentuk kegagalan dan pelanggaran serius yang dilakukan oleh aparat Polres Tana Toraja.

PUNCAK KEMARAHAN AKIBAT EKSEKUSI TONGKONAN
Aksi hari ini dipicu oleh akumulasi kekecewaan, dengan insiden eksekusi Tongkonan Ka’pun menjadi sorotan utama. Menurut Jenderal Lapangan GEMPAR, Nartolius Kombongkila’, tindakan aparat saat pengamanan eksekusi tersebut dinilai melanggar prinsip kemanusiaan dan mencederai budaya Toraja.

“Kami menuntut pertanggungjawaban moral dan profesional. Ada dugaan penggunaan gas air mata jenis Expayer, peluru karet, dan kekerasan fisik yang menyebabkan banyak warga luka-luka dan harus dirawat di rumah sakit,” tegas Nartolius dalam orasinya.

Ia juga menyoroti tindakan represif yang tidak pandang bulu, di mana penembakan gas air mata dilakukan mengarah langsung ke massa tanpa mempertimbangkan keberadaan anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Selain itu, aparat dituding melakukan pemukulan terhadap warga, termasuk perempuan, pada saat pengamanan eksekusi.

KASUS-KASUS KRITIS YANG MANDUL
Dalam orasinya, GEMPAR kembali menegaskan bahwa kinerja Kapolres Tana Toraja dianggap telah menimbulkan keresahan di masyarakat dan memperlihatkan lemahnya penegakan hukum.

Dua kasus kritis yang disorot oleh massa aksi adalah:
Kasus Kematian Nelson: Hingga hari ini kasus kematian Nelson belum menemukan titik terang penanganan yang memuaskan publik.
Pencurian Gereja: Kasus pencurian alat-alat musik di delapan gereja di Tana Toraja sepanjang tahun 2024-2025 hingga kini juga tidak memiliki kejelasan penanganan.

AKBP Budi Hermawan Dinilai Tak Cocok Pimpin Wilayah Budaya
GEMPAR secara lugas menyimpulkan bahwa Kapolres Tana Toraja, AKBP Budi Hermawan, dinilai tidak cocok memimpin wilayah yang kental dengan adat dan marwah budaya Toraja. Sejak menjabat, ia disebut telah memunculkan banyak dinamika dan konflik sosial di tengah masyarakat.

Tuntutan Utama GEMPAR:
Copot Kapolres Tana Toraja, AKBP Budi Hermawan, dari jabatannya.
Usut tuntas tindakan represif dan penggunaan gas air mata Expayer oleh Aparat Polisi dan Pengamanan Kasus Eksekusi Tongkonan Ka`pun
Transparansi penanganan kasus kematian Nelson dan pencurian gereja.